Mengajak anak-anak mencintai silat

aku dan anak-anakku

Tak semua kita yang mencintai silat mau menembus kesulitan  melanjutkan generasi silat kepada anak-anak kita. Padahal kalau kita tak menurunkan kegemaran silat maka silat saya pastikan akan punah digempur nilai budaya asing memalui multi jalur.

Industri kreatif kita sama sekali tak pernah menghadirkan silat dalam menu permainan anak-anak, cerita bergambar atau apapun. Para guru kitta tak mengenal silat apa lagi mengajarkannya. Para ustadz yang dulu selalu menyisipkan pelajaran silat setelah mengaji di surau-surau tak pernah lagi terdengar keberadaannya. Film atau sinetron silat hanya mengekspose ceritera balas dendam – meniru mentah-mentah film Hongkong – dan jauh dari ajakan mencintai nilai-nilai luhur dan seni dalam silat.

Maka mengajak anak kita sendiri untuk mencintai silat adalah benteng terakir untuk melestarikan silat. Sebagai orang tua kita bisa memotivasi anak dan mendaftarkan ke klub-klub silat. Atau jika perlu mensponsori pelatih silat dan membuka tempat latihan silat baru. Tentu saja dana menjadi faktor penting untuk membangkitkan lagi semangat silat. Saya kira ini dapat kita lakukan, sambil menunggu gerakan lebih besar untuk mendorong perkembangan silat dan kecintaan bangsa ini kepada silat dan segala nilai luhur yang dikandungnya.

Anda setuju?

Pedang Nabi Daud

pedang-daud1Kunjungan ke Istambul sangat menarik. Bukan saja karena bangunan bersejarahnya namun  cerita tentang perjuangan Al Fatih menembus Benteng Byzantium sangat menarik. Maka sejarang Istambul selalu diiringi dengan sejarang perang.

Ada banyak pedang terimpan di Top Kapi, sebuah musium yg dahulunya adalah istana Al Fatih. Tidak saja pedang para pemimpin Istanbul, bahkan Pedang Nabi Muhammad saw, pedang para sahabat, dan bahkan pedang Nabi Daud. Namun karena tak boleh mengambil foto, maka sayangnya tak bisa saya tampilkan semua disini.

Suatu saat saya akan memberi komentar atas pedang-pedang ini.

Kita mulai saja dari yang saya “curi” fotnya secara diam-diam (sebelum akhirnya dilarang petugas musium).  Foto ini adalah foto pedang Nabi Daud. Disimpan oleh Bizantium selama berabad-abad (Istanbul dahulunya adalah ibu kota Romawi/Byzantium).

Pedang ini sepanjang kira-kira 90 cm saja. Gagangnya kecil dan bilahnya bermata dua dengan ukuran lebar bilah sekitar 5 cm, meruncing keujungnya. Untuk ukuran Nabi Daud yang menurut sejarah bertubuh kecil, pedang ini memang akan sangat lincah untuk dimainkan.  Buat ukuran orang Indonesia – seukuran tangan saya – pedang ini sangat pas dipegang. Tanpa memegangnya saya bisa merasakan bahwa kesetimbangannya sangat bagus dengan gagang berlapis kulit hitam yang mantap.

Nabi Daud juga menggunakan tameng (konon di tamengnya ada logo bintang segi 6 seperti logo Israel sekarang). Maka saya membayangkan pedang ringan dan tameng ini menjadi alat beladiri yang efektif buat Nabi Daud. Nabi Daud dikenang sebagai orang yang mengalahkan Gholiath yang bertubuh sangat besar dalam sebuah peperangan. Pada waktu itu Nabi daud masih dalam usia remaja.

Jambia, pisau khas Yaman

jambia4

Hampir sepekan di Yaman, tak saya lewatkan untuk menikmati beladiri khas Yaman. tak mudah menemukan akar beladiri ini. Maklumlah sejak lama Yaman dikenal luas sebagai negara dengan perdagangan senjata api yang bebas. Maka beladiri Yaman nyaris bukan dikembangkan melalui Fighting tetapi berupa War.

Beruntung saya temukan semacam gerak tarian dengan senjata khas Yaman bernama Jambia. Jambia adalah sebilah pisau bremata dua dengan ujung agak melengkung dan sarung yang melengkung dan diselipkan di pinggang depan atau perut pada sabuk. Nyaris hampir seluruh pemuda Yaman membawa jambia jika keluar rumah. Gerak langkah penari jambia sangat gemulai dan dinamis dengan langkah kaki ringan, kedepan dan belakang dan terkadang melingkar.

jambia3Jambia sendiri dipegang dengan genggaman yang ringan, bahkan dengan menggunakan dua jari. saya membayangkan ahli jambia akan sangat lincah memutar-mutar jambia dan memindahkan dari tangan satu ketangan lainnya.

Ketika saya mencoba tariannya, saya sendiri merasakan lengkah yang sangat dinamis. Diringi degan tabuhan genderang yang mendentam, langkah Jambia ini sangat indah sebagai sebuah tari dan juga sebagai langkah dasar beladiri Jambia.

Saya sempat membeli sebuah Jambia untuk bisa mendalami penggunaannya di tana air.

Pendaftaran Perisai Diri UI Depok

Bagi yang tinggal di Depok dan sekitarnya, berminat ikut Silat Perisai Diri?

klik di sini

Perisai Diri UI Unjuk Gigi Lagi


Sudah beberapa tahun ini suara ciat-ciat para pesilat Perisai Diri di Universitas Indonesia seolah menyelam. Jurus menyelam itu demikian lamanya sehingga membuat gemas para awak PD di Jakarta. Padahal, dulu pada tahun 1980-an, PD UI demikian besar. Mampu menggelar acara Kejuaraan Nasional Antar-Perguruan Tinggi maupun kejuaraan daerah.

 

Lalu di mana kini kebesaran PD UI itu? Jangan-jangan jurus menyelam itu kebablasan sehingga tidak mau muncul kembali?

 

“Siapa bilang PD UI menyelam terus? Kami mulai berbenah diri. Ingin benar bisa berlatih rutin seperti para senior dulu. Kendalanya memang terletak pada perkembangan kota Jakarta. Kampus UI di Depok sulit dijangkau oleh para anggota PD yang rumahnya jauh. Hal itu makin diperparah dengan lalu-lintas macet. Oleh karena itu kami ingin memilih tempat latihan yang pas buat kami semua. Mudah dijangkau dan lebih dekat dengan tempat tinggal anggota PD,” kata Gita, mahasiswi Fakultas Hukum dan juga Ketua PD UI periode 2007-2008.

 

 

 

Pasang Surut

 

Keberadaan PD UI diawali kiprah Mas Raswari, mahasiswa Fakultas Teknik yang kala itu juga menjabat sebagai Pengurus Dewan Mahasiswa UI. Ia membuka  latihan Perisai Diri pada tanggal 14 Agustus 1979.

 

Kala itu pembukaan latihan PD diawali dengan acara demonstrasi teknik silat yang dimotori para pelatih dan keluarga PD DKI.  ”Kala itu kami tampil di depan para mahasiswa UI. Banyak mahasiswa yang berminat untuk latihan PD dan umumnya dari kalangan mahasiswa Fakultas Teknik”, kata Mas Limonu Katili yang juga menjadi pelatih angkatan pertama di PD UI.

 

Waktu itu latihan terpusat di lapangan parkir Fakultas Kedokteran Gigi, kampus Salemba. 

 

Unit Kegiatan Mahasiswa PD UI ini mengalami masa  keemasan pada saat kampus UI Depok didirikan tahun 1980an dan tempat latihan dipindah ke Balai Rung, berdekatan dengan Gedung Rektorat yang menjadi simbol kampus tersebut. Anggota PD UI mencapai lebih dari 100 orang. Itu bisa dilihat dari penuhnya pelataran Balairung yang dijadikan ajang latihan.

 

Lantaran kekompakan anggota UKM Perisai Diri UI, maka pada tahun 1988 mereka berani menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional Perisai Diri Antar Perguruan Tinggi. Acara itu dihadiri oleh beberapa menteri negara. Mbak Ayu Hertatiningtyas menjadi ketua panitia. PD UI juga sempat menyelenggarakan Kejuaraan Daerah Perisai Diri Tingkat DKI yang saat itu diketuai oleh mas Ardi Umar.

 

Lalu  ketika kepengurusan dipegang oleh Mas I Wayan Dhani, PD UI sempat menggelar Liga Almamater se- Jabodetabek tahun 1996. Presiden Persilat (persatuan silat antar-bangsa) Bapak Eddy M Nalapraya membuka acara tersebut. Ketua panitia saat itu adalah mas Muhammad Shidiq, mahasiswa Fakultas Teknik yang juga sempat menjadi pelatih di PD UI.

 

Namun langkah PD UI itu sempat surut ketika krisis ekonomi mendera negeri ini. Harimau, Naga, maupun Garuda para pesilat PD terkena imbas krisis tersebut. Jadwal kejuaraan tidak bisa ditepati karena tidak ada anggaran dana untuk acara tersebut.

 
Dukungan Alumni

Meski telah menyelam lama, semangat untuk bangkit tetap menyala pada anggota PD. Adalah Sulaiman Sujono, mahasiswa Fakultas Hukum UI yang berusaha  menjalankan roda organisasi yang selama ini “kempes”.

 

Sulaiman secara hati-hati melangkah sambil berusaha menemukan strategi yang pas untuk membangkitkan PD.

 

“Kami akan memulai latihan dengan mahasiswa yang sudah ikut PD terlebih dahulu di masa SMA-nya. Selain itu kami juga akan meminta  bantuan para alumni PD UI yang kini masih ada di sekitar jabotabek,” ujar Sulaiman. 

Dukungan dari alumni, yang selama beberapa tahun terakhir seperti hilang, kini bak gayung bersambut. Mas Moh Arifin Purwakananta, alumni lulusan Fakultas Teknik yang pernah mengetuai PD UI periode 1990 – 1991 secara aktif mendukung adik-adik almamaternya untuk menumbuhkan kembali  kegiatan PD UI.

 

Mereka kini berlatih kembali di pinggir danau yang terhampar luas tersebut. Tidak ketinggalan juga dukungan yang sangat baik yang datang dari Mas Dr. Budi Haryanto, BSc, BSPH, MSPH, MSc, yang saat ini menjabat sebagai kepala Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Beliau juga seorang yang senior di Pusat Penelitian Kesehatan FKM UI.

“Perisai Diri bisa memulai debutnya dengan memberikan latihan kepada anggota security di fakultas. Dengan melatih kesatuan security kampus, Perisai Diri bisa berkembang untuk menarik minat mahasiswa UI lainnya.”, demikian ungkap Mas Budi Haryanto.

  

 

“Tidak menutup kemungkinan, PD UI juga mampu mengembangkan PD di universitas lainnya. Ini terbukti saat dulu di tahun 1991 – 1997, ketika PD UI bersama-sama dengan PD Gunadarma menghidupkan gairah mahasiswa untuk berlatih silat di Balairung”, ungkap mas Anjar , pelatih PD Gunadarma di periode 1992 – 1996, yang sempat merasakan latihan bersama dengan mahasiswa UI di masa itu.

Yang pasti, sekarang PD UI sudah mulai berbenah. Tanggal 13 Oktober yang akan datang, Sulaiman Sujono dan kawan-kawan akan mulai sedikit demi sedikit memompa roda organisasi PD UI. Memang tidak mudah baginya membangun kembali organisasi yang sudah cukup lama tertidur. Dukungan para pelatih, alumni, dan seluruh insan Perisai Diri-lah yang dapat menambah semangatnya dalam menjalankan tugas tersebut.

Ayo PD UI…  Bangun dan teteskan kembali keringat-keringat dari tubuh muda!!! Penuhilah semangat di dadamu  untuk memajukan silat sebagai budaya bangsa!!!

Dari satu sudut Balairung Universitas Indonesia, silat memiliki harapan lebih baik untuk dikenal di manca negara. (***)

sumber : www.silatperisaidiri.com