Teknik Kombinasi Tangan Kosong Perisai Diri

Buat teman-teman PD yang sudah lama gak latihan, ini semoga menjadi penyemangat untuk terus berlatih. Ini materi Dasar I, saya copy dari perisaidiri.or.id

Continue reading

Advertisements

Beksi H. Hasbullah


Beruntung hadir dalam Haul Pencak Silat Beksi H. Hasbullah di Jagakarsa Selasa 20 Mei 2008. Pertemuan ini karena info dari teman2 online silat di FP2STI. Peragaan silat Beksi jadi seakan tuntas setelah Guru Besar Beksi turut memperagakan geraknya, serta pemakaian serangan tangkisan dalam aplikasi.
Saya merasa Beksi ini sangat dipengarusi oleh beladiri China sehingga langkah, bentuk serangan, posisi jari tangan, besutan dan putarannya khas. Torsi geraknya terlihat kokoh karena tangan dan kaki hampir tidak pernah terentang penuh. Pukulan berupa tangan yang dikepal terbuka keatas dan ditotokkan dengan momentum penuh. Serangan kaki digunakan untuk serangan kaki atau sapuan selutut. Seperti pada beladiri China pada umumnya kuda-kuda tidak rendah, “kuda-kuda seperempat ” demikian Guru Besar beksi ini menamakan.
Pada gambar, tampak posisi kuda-kuda yang mirip posisi “hempis” pada silat Perisai Diri yang sama-sama punya akar beladiri China. Dibawah ini Pak Adirjo (Alm) pendiri perisai Diri dalam posisi hempis.

Diskusi Bulanan Forum pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia

Terimakasih untuk mas Herman dan teman-teman FP2STI. Forum seperti ini sangat penting bukan untuk sekedar kongkow saja, ada tugas untuk mengembangkan Silat Indonesia. Akan sangat bagus jika kita dapat secara sistematis merekontruksi budaya silat ini, misalnya dengan memberi dukungan untuk wujudnya kembali perguruan, mendokumentasikannya, serta mengembangkannya. Siapa mau danai pengembangan perguruan-perguruan Silat? Negara kita melalui Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Pariwisata, Meneg Pemuda dan Olah Raga apa ada program untuk ini? Saya usul ada diantara kita yang mambangun LSM Pengembangan Budaya Silat agar bisa berjuang lebih. Anda berminat?

Silat Bintang Sembilan, Tuban

Silat Bintang Sembilan, begitu Alm Abdul Latief memberi nama perguruan silat yang diperlajarinya. Nama ini berasal dari gurunya yang bernama Haji Ikhsan di Kutorejo di lokasi Kauman Kota Tuban Jawa Timur akhir tahun 60 an. Gurunya ini konon masih merupakan kakek dari budayawan Emha Ainun Najib, cerita ini dan nama Haji Ikhsan ini kebetulan didapat ketika tak sengaja bincang-bincang bersama Ibu Kandung Cak Nun di Jombang tahun 2000 saat pengajian Padhang Bulan,. Menilik nama Silat Bintang Sembilan ini memang dikaitkan dengan semangat NU yang masa itu sedang mengakar di Indonesia khususnya Jawa Timur. Aliran silat ini adalah silat bawean yang terkenal. Silat bintang sembilan ini memang berkembang didorong kondisi konflik horisontal tahun 48 hingga 60-an. Abdul latief memiliki rekan seperguruan, semacam asisten pelatih bernama Cak Moel yang bekerja sebagai supir.

Abdul Latief muda – biasa dipanggil Cak Dul atau Cak Dullatip– sangat menggemari silat. Sebagian hidupnya dinikmati sambil berlatih silat. Cak Dul kerap berlatih hinga larut malam, seperti kebanyakan latihan silat masa itu. Beliau menguasai teknik tangan kososng (kontou) dan teknik senjata pedang.

Peragaan teknik tangan kosong dengan langkah, pukulan, kelit , kuncian kerap diperagakan beliau. Langkahnya mantap, seperti tak pernah meninggalkan bumi. Tak ada lompatan atau mengangkat kaki tinggi, Langkah demikian terkontrol, meski demikan tak kehilangan kelincahan dan kaki kiri dan kanan bergantian menjadi poros dan menauver serangan dan hindaran ke segala penjuru. Ada langkah berupa gesutan. Seluruhnya menggunakan teori pemindahan berat badan. Ini dipakai sebagai kekuatan kunci untuk menyerang, menghindar, mengunci dan membuka kuncian. Langkah adalah kunci dari setiap geraknya. Setiap langkah dilakukan dengan perlindungan terhadap kemaluan sehingga tak ada kesempatan langkah yang terlalu terbuka.

Continue reading

Silat Betawi Walet Putih


Silat ini dikembangkan oleh beberapa pesilat betawi dibilangan Cilandak dan Jeruk Purut. Berbeda dengan silat Walet Puti (tanpa huruf “H” dibelakangnya), pergururan ini boleh dibilang tidak terlalu terkenal dengan jumlah murid yang tidak terlalu banyak.

Menurut informasi Sejarah pendiri walet putih adalah
no.1 Bandi
no.2 Anang s
no.3 Ipan
no.4 Rudi
no.5 Wagiran
no.6 Eko
no.7 Bang Narto.

 

Pelatih silat ini di Kebagusan Pasar Minggu adalah Bang Narto dan Asistennya Bang Haris serta beberapa nama pendiri yang saya sudah tidak ingat. Mereka berdua tinggal di Jeruk Purut Jakarta selatan. Selain di Jeruk Purut, PPS Walet Putih juga sempat dikembangkan di Cilandak dan Kebagusan Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Sebagaimana silat betawi, silat ini mementingkan kuda-kuda yang kokoh namun lincah. Mungkin sudah mengadopsi gerakan dari luar betawi serangan dan pasangan silat walet putih lebih terbuka, termasuk serangan dengan menggunakan tendangan dan pukulan tangan dengan tenaga full. Biasanya pukulan betawi memang lebih terkesan semacam totokan.

Perisai Diri

Sejarah Perisai Diri

Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri atau lebih dikenal dengan sebutan Perisai Diri atau PD merupakan organisasi Beladiri silat yang berasal dari Indonesia yang memiliki teknik beladiri yang digali dari kungfu shaolin dan 156 aliran silat Indonesia, di sari sedemikian rupa sehingga menjadi teknik beladiri paling efektif dan sesuai dengan anatomi tubuh manusia. Dengan mempelajari Perisai Diri, selain memiliki skill beladiri, siswa juga akan memiliki karakter seorang ksatria yang berani, cakap, dan bermental baja. Dengan metode yang disesuaikan dengan kompetensi fisik masing-masing siswa, latihan beladiri bukan lagi menjadi penyiksaan fisik melainkan pembentukan tubuh, jiwa dan pikiran yang seimbang.

Pak Dirdjo (panggilan akrab RM Soebandiman Dirdjoatmodjo) lahir di Yogyakarta pada hari Selasa Legi tanggal 8 Januari 1913 di lingkungan Keraton Pakoe Alam. Beliau adalah putra pertama dari RM Pakoesoedirdjo, buyut dari Pakoe Alam II. Sejak berusia 9 tahun beliau telah dapat menguasai ilmu pencak silat yang ada di lingkungan keraton sehingga mendapat kepercayaan untuk melatih teman-temannya di lingkungan daerah Pakoe Alaman. Di samping pencak silat beliau juga belajar menari di Istana Pakoe Alam sehingga berteman dengan Saudara Wasi dan Bagong Kusudiardjo.
Continue reading

Silat

silat.jpg

Silat is an umbrella term used to describe the martial art forms practiced throughout the Malay Archipelago. Silat is a combative art of fighting and survival and it has been evolved in Indonesia and Malaysia civilizations for centuries into social culture and tradition.[1] During the colonization era, both in Malaysia, Singapore and Brunei Darussalam as British colonies and in Indonesia as Dutch colonies, practitioners (locally known as pesilat) used the martial art as a form to liberate[citation needed] from foreign authorities.
The distinctive forms of silat with other Asian martial arts, such as kung fu, tae kwon do or karate, lie on the cultural aspect. Silat is not only for combative purposes. When accompanied with traditional instruments, such as kendang, silat transforms into a folk dance. In Minangkabau area (the West Sumatra province of Indonesia), silat was the oldest men’s tradition known as silek and it is one of the components to perform the Minangkabau folk dance of randai.[2] In Malaysia, one form of silat known of silat pulut also shows the harmonic silat styles as a dance accompanied by traditional instruments. A silat form in West Java province of Indonesia, known as pencak, is usually accompanied with music, notably by the traditional Sundanese suling instrument.
Continue reading