Silat Bintang Sembilan, Tuban

Silat Bintang Sembilan, begitu Alm Abdul Latief memberi nama perguruan silat yang diperlajarinya. Nama ini berasal dari gurunya yang bernama Haji Ikhsan di Kutorejo di lokasi Kauman Kota Tuban Jawa Timur akhir tahun 60 an. Gurunya ini konon masih merupakan kakek dari budayawan Emha Ainun Najib, cerita ini dan nama Haji Ikhsan ini kebetulan didapat ketika tak sengaja bincang-bincang bersama Ibu Kandung Cak Nun di Jombang tahun 2000 saat pengajian Padhang Bulan,. Menilik nama Silat Bintang Sembilan ini memang dikaitkan dengan semangat NU yang masa itu sedang mengakar di Indonesia khususnya Jawa Timur. Aliran silat ini adalah silat bawean yang terkenal. Silat bintang sembilan ini memang berkembang didorong kondisi konflik horisontal tahun 48 hingga 60-an. Abdul latief memiliki rekan seperguruan, semacam asisten pelatih bernama Cak Moel yang bekerja sebagai supir.

Abdul Latief muda – biasa dipanggil Cak Dul atau Cak Dullatip– sangat menggemari silat. Sebagian hidupnya dinikmati sambil berlatih silat. Cak Dul kerap berlatih hinga larut malam, seperti kebanyakan latihan silat masa itu. Beliau menguasai teknik tangan kososng (kontou) dan teknik senjata pedang.

Peragaan teknik tangan kosong dengan langkah, pukulan, kelit , kuncian kerap diperagakan beliau. Langkahnya mantap, seperti tak pernah meninggalkan bumi. Tak ada lompatan atau mengangkat kaki tinggi, Langkah demikian terkontrol, meski demikan tak kehilangan kelincahan dan kaki kiri dan kanan bergantian menjadi poros dan menauver serangan dan hindaran ke segala penjuru. Ada langkah berupa gesutan. Seluruhnya menggunakan teori pemindahan berat badan. Ini dipakai sebagai kekuatan kunci untuk menyerang, menghindar, mengunci dan membuka kuncian. Langkah adalah kunci dari setiap geraknya. Setiap langkah dilakukan dengan perlindungan terhadap kemaluan sehingga tak ada kesempatan langkah yang terlalu terbuka.

Continue reading

Advertisements

Silat Betawi Walet Putih


Silat ini dikembangkan oleh beberapa pesilat betawi dibilangan Cilandak dan Jeruk Purut. Berbeda dengan silat Walet Puti (tanpa huruf “H” dibelakangnya), pergururan ini boleh dibilang tidak terlalu terkenal dengan jumlah murid yang tidak terlalu banyak.

Menurut informasi Sejarah pendiri walet putih adalah
no.1 Bandi
no.2 Anang s
no.3 Ipan
no.4 Rudi
no.5 Wagiran
no.6 Eko
no.7 Bang Narto.

 

Pelatih silat ini di Kebagusan Pasar Minggu adalah Bang Narto dan Asistennya Bang Haris serta beberapa nama pendiri yang saya sudah tidak ingat. Mereka berdua tinggal di Jeruk Purut Jakarta selatan. Selain di Jeruk Purut, PPS Walet Putih juga sempat dikembangkan di Cilandak dan Kebagusan Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Sebagaimana silat betawi, silat ini mementingkan kuda-kuda yang kokoh namun lincah. Mungkin sudah mengadopsi gerakan dari luar betawi serangan dan pasangan silat walet putih lebih terbuka, termasuk serangan dengan menggunakan tendangan dan pukulan tangan dengan tenaga full. Biasanya pukulan betawi memang lebih terkesan semacam totokan.