Festival Kampoeng Silat Jampang

JAKARTA, KOMPAS.com – Tak biasanya, para jawara Betawi berkumpul sejak Selasa (7/12/2010) siang di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan. Para Jawara ini mempertontonkan kebolehan aksi bela diri Pencak Silat dalam Festival Kampoeng Silat Jampang.

Silat saat ini terpinggirkan, dan hanya diajarkan di tempat-tempat tertentu saja.
— Arifin

“Kegiatan ini merupakan kerja sama Forum Diskusi Sahabat Silat, Kampoeng Silat Jampang, Dhompet Dhuafa dengan tujuan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kebudayaan pencak silat,” kata Direktur Dhompet Dhuafa, Arifin kepada wartawan.

Menurut Arifin, dipilihnya pencak silat sebagai pengembangan kebudayaan lantaran olahraga beladiri yang merupakan warisan budaya luhur bangsa mulai tergerus dengan perkembangan zaman. “Silat saat ini terpinggirkan, dan hanya diajarkan di tempat-tempat tertentu saja. Kami wajib mengembangkan seni silat untuk layak tampil sebagai warisan budaya luhur bangsa,” katanya.

Festival bertajuk Kampoeng Silat Jampang, bertujuan untuk membangun dan menyebarkan bahwa olahraga beladiri pencak silat sebagai sesuatu yang penting. “Kami mengajarkan kepada para pesilat untuk mendapatkan “kependekaran” atau sari pati dari gelar pendekar, yakni sifat cepat, kuat, tegas, aktif, dan ksatria. Dimana hal ini harusnya diperlukan untuk menyelesaikan masalah bangsa,” papar Arifin.

Dalam festival ini, kata Arifin, dihadiri oleh 10 perguruan asli Betawi, yang merupakan bagian kecil khasanah silat Betawi. “Perguruan silat yang hadir adalah PS Si Bunder, PS Cingkrik, PS Cingkring Goning, PS Golokseliwa, PS Beksu H Hasbulloh, PS Macan Belang Jitu, PS Putra Jakarta, PS Gerak Saka, PS Gerak Cipta, dan PS Zona Madina,” jelasnya.

Menurut Arifin, pemilihan tempat festival di mal merupakan terobosan baru. “Kami memilih kegiatan ini di mal agar bisa diserap publik lebih cepat. Kami jemput bola,” paparnya.

Sementara, menurut peserta festival dari perguruan silat Macan Belang Jitu, Aay (17), acara ini bisa membuat budaya Betawi lebih terangkat derajatnya. “Ya bagus acaranya, dengan ada di mal seperti ini jadi tertantang untuk menunjukkan kebolehan silat saya,” ujarnya.

Ica (14), salah satu peserta festival dari perguruan yang sama berharap, ke depan acara seperti ini bisa diadakan kembali.

sumber : http://megapolitan.kompas.com

1 Comment

  1. bang aye boleh minta dukungan ga
    aye mo ngadain acra betawi sejuta warna di bulan mei tanggal 15


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s