Bela Diri Nusantara Purba

Saya terkaget melihat foto patung yang dibuat oleh penemu manusia jawa. Digambarkan saat itu manusia jawa telah menggunakan senjata untuk membela diri dan berburu. barangkali inilah cikal bakal silat di Nusantara yang kemudian dikembangkan ke seluruh dunia.
Ini diperkuat dengan penemuan bahwa Nusantara adalah asal dari penyebaran manusia. Penelitian yang dipaparkan dalam sebuah buku Eden From The East ini menyebutkan hasil penelitian DNA yang menyebutkan bahwa Nusantara adalah wilayah pertama kali peradaban dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia. Bisa jadi silat purba merupakan peradaban beladiri tertua yang akhirnya mengispirasi beladiri lain di dunia.

Coba bayangkan, jika rekaan gambar ini benar, siapa yg ajari manusia generasi pertama ini memegang pisau? Tentu saja ini hasil budidaya Manusia Jawa ini sendiri. Artinya silat memang berkembang di nusantara lalu disebarkan ke seluruh penjuru dunia, berinteraksi dan kemudian saling mempengaruhi.

Advertisements

Silat Sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler di Sekolah

Kampoeng Silat Jampang (KSJ) kembangkan Silat Beksi sebagai ekstrakurikuler di Sekolah

Perlu banyak kreatifitas untuk melestarikan silat. Di antaranya silat dapat dimasukkan kedalam program Muatan Lokal atau program ekstrakuler di sekolah.Sekolah sebagai pusat pendidikan merupakan lahan yang subur untuk melestarikan silat sebagai budaya, olahraga, seni dan pendidikan karakter siswa.

Ada banyak keuntungan kegiatan pengembangan silat di sekolah. Program silat di sekolah bersifat formal (muatan lokal) maupun ektrakurikuler bersifat resmi sekolah sehingga merupakan paket pendidikan karakter bagi peserta. Silat yang dikembangkan di sekolah cenderung memiliki murid yang sesusia sehingga memudahkan pelatihan silat dan tingkatannya. Program silat di sekolah memiliki murid yang relatif cukup banyak sehingga membuat semangat pelatih dan perguruan, meskipun tentu saja seperti pada umumnya terdapat gejala seleksi alam untuk pendalamannya. Pendidikan yang berjenjang dan penyebaran siswa ke tingkat yang lebih tinggi membuat kader-kader silat menjadi menyebar untuk pengembangan silat itu sendiri.

Mengembangkan silat di sekolah membutuhkan beberapa persiapan dan kiat-kiat. Perguruan yang ingin mengembangkan silat di sekolah harus memastikan kurikulum dan metoda pengajaran yang berjenjang, sistem kenaikan tingkat dan kesiapan pengajar, termasuk penyediaan metode mengajar silat bagi anak-anak. Persiapan perguruan silat ini merupakan 50% keberhasilan program silat di sekolah. Memang tidak semua silat tradisional dapat mengkomunikasikan ilmu silat dalam bentuk tertulis dan terstruktur. perlu peran kelompok masyarakat pecinta silat atau berbagai pihak untuk mendampingi dan memberi penguatan manajemen perguruan silat. Barangkali untuk itulah lembaga seperti Yayasan Sahabat Silat dan Kampoeng Silat Jampang (KSJ) dll bisa memainkan perannya.

Pengembangan silat di sekolah diarahkan kepada model pembelajaran yang berkelanjutan, lestari dan berkembang. Hal-hal strategis misalnya Perguruan, Siswa, Pelatih, Kurikulum dan Metode, Event dan Kejuaraan, Dana, dan Legal serta lingkungan yang mendukung harus dikelola dalam mozaik yang indah.

Berlatih bersama di Kampoeng Silat Jampang

Desa Jampang, Parung Bogor –  Minggu 30 Januari 2011.

Setiap Hari Minggu saat ini ada yang berbeda di kawasan Zona Madina Desa Jampang Parung Bogor. Minggu pagi  mulai jam 8 pagi anak anak, pemuda dan pemudi dan warga Desa Jampang ini semangat mengikuti latihan silat. Nampaknya program Kampoeng Silat Jampang ini disambut baik oleh masyarakat desa Jampang.

Saat ini sudah ada perguruan Satria Muda Indonesia, Perisai Diri dan segera bergabung Perguruan Silat Beksi H. Hasbullah. Memang diharapkan Desa Jampang dapat mengembangkan beragam pencak silat tradisonal maupun silat nasional. Latihan ini direncanakan akan dilaksanakan di wilayah Zona Madina, sekolah di wilayah Desa Jampang, dan dikawasan desa Jampang lainnya. Tentu saja latihan ini terbuka untuk umum.

Festival Kampoeng Silat Jampang

JAKARTA, KOMPAS.com – Tak biasanya, para jawara Betawi berkumpul sejak Selasa (7/12/2010) siang di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan. Para Jawara ini mempertontonkan kebolehan aksi bela diri Pencak Silat dalam Festival Kampoeng Silat Jampang.

Silat saat ini terpinggirkan, dan hanya diajarkan di tempat-tempat tertentu saja.
— Arifin

“Kegiatan ini merupakan kerja sama Forum Diskusi Sahabat Silat, Kampoeng Silat Jampang, Dhompet Dhuafa dengan tujuan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kebudayaan pencak silat,” kata Direktur Dhompet Dhuafa, Arifin kepada wartawan.

Menurut Arifin, dipilihnya pencak silat sebagai pengembangan kebudayaan lantaran olahraga beladiri yang merupakan warisan budaya luhur bangsa mulai tergerus dengan perkembangan zaman. “Silat saat ini terpinggirkan, dan hanya diajarkan di tempat-tempat tertentu saja. Kami wajib mengembangkan seni silat untuk layak tampil sebagai warisan budaya luhur bangsa,” katanya.

Festival bertajuk Kampoeng Silat Jampang, bertujuan untuk membangun dan menyebarkan bahwa olahraga beladiri pencak silat sebagai sesuatu yang penting. “Kami mengajarkan kepada para pesilat untuk mendapatkan “kependekaran” atau sari pati dari gelar pendekar, yakni sifat cepat, kuat, tegas, aktif, dan ksatria. Dimana hal ini harusnya diperlukan untuk menyelesaikan masalah bangsa,” papar Arifin.

Dalam festival ini, kata Arifin, dihadiri oleh 10 perguruan asli Betawi, yang merupakan bagian kecil khasanah silat Betawi. “Perguruan silat yang hadir adalah PS Si Bunder, PS Cingkrik, PS Cingkring Goning, PS Golokseliwa, PS Beksu H Hasbulloh, PS Macan Belang Jitu, PS Putra Jakarta, PS Gerak Saka, PS Gerak Cipta, dan PS Zona Madina,” jelasnya.

Menurut Arifin, pemilihan tempat festival di mal merupakan terobosan baru. “Kami memilih kegiatan ini di mal agar bisa diserap publik lebih cepat. Kami jemput bola,” paparnya.

Sementara, menurut peserta festival dari perguruan silat Macan Belang Jitu, Aay (17), acara ini bisa membuat budaya Betawi lebih terangkat derajatnya. “Ya bagus acaranya, dengan ada di mal seperti ini jadi tertantang untuk menunjukkan kebolehan silat saya,” ujarnya.

Ica (14), salah satu peserta festival dari perguruan yang sama berharap, ke depan acara seperti ini bisa diadakan kembali.

sumber : http://megapolitan.kompas.com

Pesilat Terakhir

Silat yang kita cintai sebagai warisan budaya luhur bangsa ini harus dilanjutkan ke generasi selanjutnya. Bagi saya ini merupakan modal sosial yang tidak terkira. Silat adalah budaya yang  diwariskan oleh para pejuang kita. Silat sebagai budaya luhur telah mewarnai sikap ksatria para pahlawan Indonesia.

Hari ini kitra menyaksikan setiap hari di TV beragam sifat kepengecutan, keserakahan, kebrutalan, kedengkian dan sikap curang yang telah terkikis dari sikap ksatria yang dibangun oleh budaya silat seperti semangat membela yang benar, sifat menolong, mengasihi, jujur, sportifitas dan keberanian yang menjadi sifat para pesilat.

Melihat gelagat silat sebagai modal sosial ini sama sekali tak disentuh dan dikembangkan dalm konteks budaya bangsa, melainkan hanya sekedar seni dan pariwisata, maka boleh jadi Anak-anak kita hanyalah akan jadi pesilat terakhir yang mewarisi sifat luhur ini.

Silat dan Anak-anak

Senang melihat anak-anak menyenangi silat. Foto ni adalah foto Sunan dan Sultan, sepasang adik kakak kembar dari pasangan Satria Adhi Surendra dan Nunung yang tinggal di bilangan Parung Bogor.

Mengajak anak-anak mencintai silat

aku dan anak-anakku

Tak semua kita yang mencintai silat mau menembus kesulitan  melanjutkan generasi silat kepada anak-anak kita. Padahal kalau kita tak menurunkan kegemaran silat maka silat saya pastikan akan punah digempur nilai budaya asing memalui multi jalur.

Industri kreatif kita sama sekali tak pernah menghadirkan silat dalam menu permainan anak-anak, cerita bergambar atau apapun. Para guru kitta tak mengenal silat apa lagi mengajarkannya. Para ustadz yang dulu selalu menyisipkan pelajaran silat setelah mengaji di surau-surau tak pernah lagi terdengar keberadaannya. Film atau sinetron silat hanya mengekspose ceritera balas dendam – meniru mentah-mentah film Hongkong – dan jauh dari ajakan mencintai nilai-nilai luhur dan seni dalam silat.

Maka mengajak anak kita sendiri untuk mencintai silat adalah benteng terakir untuk melestarikan silat. Sebagai orang tua kita bisa memotivasi anak dan mendaftarkan ke klub-klub silat. Atau jika perlu mensponsori pelatih silat dan membuka tempat latihan silat baru. Tentu saja dana menjadi faktor penting untuk membangkitkan lagi semangat silat. Saya kira ini dapat kita lakukan, sambil menunggu gerakan lebih besar untuk mendorong perkembangan silat dan kecintaan bangsa ini kepada silat dan segala nilai luhur yang dikandungnya.

Anda setuju?