Daun Melayang

teknik daun melayangIbarat daun yang tergeletak di tanah kemudian dihempas angin, begitulah gerak ini diberi nama Daun Melayang. Daun yang ditiup angin melayang naik dan meliuk kemudian jatuh secara terbalik. Ini bagaikan gerak daun melayang melompat tinggi dan pancernya masuk ke posisi  terlemah lawan untuk kemudian menyerang dengan serangan yang melumpuhkan. Lompatan ini mendarat ke tanah dengan berbagai macam posisi yang disesuaikan dengan kondisi serangan dan posisi lawan.

Dalam gambar nmpak lawan yang menghindar dengan melingkar ke kanan sikap harmiau merendah dikejar serangan dengan daun melayang ke kanan jibai dengan pukulan menggunakan tongkat atau dalam bahasa jawa disebut ‘teken’.

Advertisements

Silat Sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler di Sekolah

Kampoeng Silat Jampang (KSJ) kembangkan Silat Beksi sebagai ekstrakurikuler di Sekolah

Perlu banyak kreatifitas untuk melestarikan silat. Di antaranya silat dapat dimasukkan kedalam program Muatan Lokal atau program ekstrakuler di sekolah.Sekolah sebagai pusat pendidikan merupakan lahan yang subur untuk melestarikan silat sebagai budaya, olahraga, seni dan pendidikan karakter siswa.

Ada banyak keuntungan kegiatan pengembangan silat di sekolah. Program silat di sekolah bersifat formal (muatan lokal) maupun ektrakurikuler bersifat resmi sekolah sehingga merupakan paket pendidikan karakter bagi peserta. Silat yang dikembangkan di sekolah cenderung memiliki murid yang sesusia sehingga memudahkan pelatihan silat dan tingkatannya. Program silat di sekolah memiliki murid yang relatif cukup banyak sehingga membuat semangat pelatih dan perguruan, meskipun tentu saja seperti pada umumnya terdapat gejala seleksi alam untuk pendalamannya. Pendidikan yang berjenjang dan penyebaran siswa ke tingkat yang lebih tinggi membuat kader-kader silat menjadi menyebar untuk pengembangan silat itu sendiri.

Mengembangkan silat di sekolah membutuhkan beberapa persiapan dan kiat-kiat. Perguruan yang ingin mengembangkan silat di sekolah harus memastikan kurikulum dan metoda pengajaran yang berjenjang, sistem kenaikan tingkat dan kesiapan pengajar, termasuk penyediaan metode mengajar silat bagi anak-anak. Persiapan perguruan silat ini merupakan 50% keberhasilan program silat di sekolah. Memang tidak semua silat tradisional dapat mengkomunikasikan ilmu silat dalam bentuk tertulis dan terstruktur. perlu peran kelompok masyarakat pecinta silat atau berbagai pihak untuk mendampingi dan memberi penguatan manajemen perguruan silat. Barangkali untuk itulah lembaga seperti Yayasan Sahabat Silat dan Kampoeng Silat Jampang (KSJ) dll bisa memainkan perannya.

Pengembangan silat di sekolah diarahkan kepada model pembelajaran yang berkelanjutan, lestari dan berkembang. Hal-hal strategis misalnya Perguruan, Siswa, Pelatih, Kurikulum dan Metode, Event dan Kejuaraan, Dana, dan Legal serta lingkungan yang mendukung harus dikelola dalam mozaik yang indah.

Murid-murid pertama Perisai Diri

PDUI

Berlatih bersama di Kampoeng Silat Jampang

Desa Jampang, Parung Bogor –  Minggu 30 Januari 2011.

Setiap Hari Minggu saat ini ada yang berbeda di kawasan Zona Madina Desa Jampang Parung Bogor. Minggu pagi  mulai jam 8 pagi anak anak, pemuda dan pemudi dan warga Desa Jampang ini semangat mengikuti latihan silat. Nampaknya program Kampoeng Silat Jampang ini disambut baik oleh masyarakat desa Jampang.

Saat ini sudah ada perguruan Satria Muda Indonesia, Perisai Diri dan segera bergabung Perguruan Silat Beksi H. Hasbullah. Memang diharapkan Desa Jampang dapat mengembangkan beragam pencak silat tradisonal maupun silat nasional. Latihan ini direncanakan akan dilaksanakan di wilayah Zona Madina, sekolah di wilayah Desa Jampang, dan dikawasan desa Jampang lainnya. Tentu saja latihan ini terbuka untuk umum.

Festival Kampoeng Silat Jampang

JAKARTA, KOMPAS.com – Tak biasanya, para jawara Betawi berkumpul sejak Selasa (7/12/2010) siang di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan. Para Jawara ini mempertontonkan kebolehan aksi bela diri Pencak Silat dalam Festival Kampoeng Silat Jampang.

Silat saat ini terpinggirkan, dan hanya diajarkan di tempat-tempat tertentu saja.
— Arifin

“Kegiatan ini merupakan kerja sama Forum Diskusi Sahabat Silat, Kampoeng Silat Jampang, Dhompet Dhuafa dengan tujuan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kebudayaan pencak silat,” kata Direktur Dhompet Dhuafa, Arifin kepada wartawan.

Menurut Arifin, dipilihnya pencak silat sebagai pengembangan kebudayaan lantaran olahraga beladiri yang merupakan warisan budaya luhur bangsa mulai tergerus dengan perkembangan zaman. “Silat saat ini terpinggirkan, dan hanya diajarkan di tempat-tempat tertentu saja. Kami wajib mengembangkan seni silat untuk layak tampil sebagai warisan budaya luhur bangsa,” katanya.

Festival bertajuk Kampoeng Silat Jampang, bertujuan untuk membangun dan menyebarkan bahwa olahraga beladiri pencak silat sebagai sesuatu yang penting. “Kami mengajarkan kepada para pesilat untuk mendapatkan “kependekaran” atau sari pati dari gelar pendekar, yakni sifat cepat, kuat, tegas, aktif, dan ksatria. Dimana hal ini harusnya diperlukan untuk menyelesaikan masalah bangsa,” papar Arifin.

Dalam festival ini, kata Arifin, dihadiri oleh 10 perguruan asli Betawi, yang merupakan bagian kecil khasanah silat Betawi. “Perguruan silat yang hadir adalah PS Si Bunder, PS Cingkrik, PS Cingkring Goning, PS Golokseliwa, PS Beksu H Hasbulloh, PS Macan Belang Jitu, PS Putra Jakarta, PS Gerak Saka, PS Gerak Cipta, dan PS Zona Madina,” jelasnya.

Menurut Arifin, pemilihan tempat festival di mal merupakan terobosan baru. “Kami memilih kegiatan ini di mal agar bisa diserap publik lebih cepat. Kami jemput bola,” paparnya.

Sementara, menurut peserta festival dari perguruan silat Macan Belang Jitu, Aay (17), acara ini bisa membuat budaya Betawi lebih terangkat derajatnya. “Ya bagus acaranya, dengan ada di mal seperti ini jadi tertantang untuk menunjukkan kebolehan silat saya,” ujarnya.

Ica (14), salah satu peserta festival dari perguruan yang sama berharap, ke depan acara seperti ini bisa diadakan kembali.

sumber : http://megapolitan.kompas.com

Pesilat Terakhir

Silat yang kita cintai sebagai warisan budaya luhur bangsa ini harus dilanjutkan ke generasi selanjutnya. Bagi saya ini merupakan modal sosial yang tidak terkira. Silat adalah budaya yang  diwariskan oleh para pejuang kita. Silat sebagai budaya luhur telah mewarnai sikap ksatria para pahlawan Indonesia.

Hari ini kitra menyaksikan setiap hari di TV beragam sifat kepengecutan, keserakahan, kebrutalan, kedengkian dan sikap curang yang telah terkikis dari sikap ksatria yang dibangun oleh budaya silat seperti semangat membela yang benar, sifat menolong, mengasihi, jujur, sportifitas dan keberanian yang menjadi sifat para pesilat.

Melihat gelagat silat sebagai modal sosial ini sama sekali tak disentuh dan dikembangkan dalm konteks budaya bangsa, melainkan hanya sekedar seni dan pariwisata, maka boleh jadi Anak-anak kita hanyalah akan jadi pesilat terakhir yang mewarisi sifat luhur ini.