Mengajak anak-anak mencintai silat

aku dan anak-anakku

Tak semua kita yang mencintai silat mau menembus kesulitan  melanjutkan generasi silat kepada anak-anak kita. Padahal kalau kita tak menurunkan kegemaran silat maka silat saya pastikan akan punah digempur nilai budaya asing memalui multi jalur.

Industri kreatif kita sama sekali tak pernah menghadirkan silat dalam menu permainan anak-anak, cerita bergambar atau apapun. Para guru kitta tak mengenal silat apa lagi mengajarkannya. Para ustadz yang dulu selalu menyisipkan pelajaran silat setelah mengaji di surau-surau tak pernah lagi terdengar keberadaannya. Film atau sinetron silat hanya mengekspose ceritera balas dendam – meniru mentah-mentah film Hongkong – dan jauh dari ajakan mencintai nilai-nilai luhur dan seni dalam silat.

Maka mengajak anak kita sendiri untuk mencintai silat adalah benteng terakir untuk melestarikan silat. Sebagai orang tua kita bisa memotivasi anak dan mendaftarkan ke klub-klub silat. Atau jika perlu mensponsori pelatih silat dan membuka tempat latihan silat baru. Tentu saja dana menjadi faktor penting untuk membangkitkan lagi semangat silat. Saya kira ini dapat kita lakukan, sambil menunggu gerakan lebih besar untuk mendorong perkembangan silat dan kecintaan bangsa ini kepada silat dan segala nilai luhur yang dikandungnya.

Anda setuju?

Advertisements

Silat

silat.jpg

Silat is an umbrella term used to describe the martial art forms practiced throughout the Malay Archipelago. Silat is a combative art of fighting and survival and it has been evolved in Indonesia and Malaysia civilizations for centuries into social culture and tradition.[1] During the colonization era, both in Malaysia, Singapore and Brunei Darussalam as British colonies and in Indonesia as Dutch colonies, practitioners (locally known as pesilat) used the martial art as a form to liberate[citation needed] from foreign authorities.
The distinctive forms of silat with other Asian martial arts, such as kung fu, tae kwon do or karate, lie on the cultural aspect. Silat is not only for combative purposes. When accompanied with traditional instruments, such as kendang, silat transforms into a folk dance. In Minangkabau area (the West Sumatra province of Indonesia), silat was the oldest men’s tradition known as silek and it is one of the components to perform the Minangkabau folk dance of randai.[2] In Malaysia, one form of silat known of silat pulut also shows the harmonic silat styles as a dance accompanied by traditional instruments. A silat form in West Java province of Indonesia, known as pencak, is usually accompanied with music, notably by the traditional Sundanese suling instrument.
Continue reading